Tampilkan postingan dengan label Masyayikh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masyayikh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2016

Gusdur, Kiyai Nyentrik atau Eccentric ?

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiiem


Beda lho ya antara "nyentrik" dengan "eccentric", di samping tentu saja dari sisi kebahasaan keduanya memang berbeda, bahasa Indonesia vs bahasa Inggris, namun bukan ini fokus saya, di satu sisi "nyentrik" itu pada mulanya memang terkesan "asal beda", asal tampil beda di masyarakat, sedang di sisi lain "eccentric" tidak semata asal beda, tapi juga harus berisi sebagai yang mengesankan ada pembeda bahwa anda benar-benar berbeda akan ke"eccentric"an yang anda tunjukkan, entah itu ucapan atau tindakan.

Nah, maka penting bagi siapa pun yang mau tampil beda untuk agar mengisinya dulu dengan positive-values atau nilai-nilai kebaikan di dalamnya sebelum anda berbeda, baru anda dipersilakan TAMPIL BEDA sekarepmu tentu sejauh anda bisa mempertanggung-jawabkannya di tengah publik dan juga Tuhan.

Allahu yarham, Gusdur contohnya. Beliau tidak asal beda dalam ucapan dan tindakan, tetapi lebih sebagai pembeda dari yang ada, pembeda yang melahirkan ketegasan, pribadi yang tegas dan lugas, penegesan itulah yang kemudian beliau kerap mengesankan "eccentric" dari sekedar "nyentrik" .. Setuju ?!.

Sabtu, 19 Desember 2015

Kisah Syekh Sayid Abd. Qadir al-Jaylani dan Muridnya

Bismillahir-Rahmanir-Rahiem

Dulu, tersebutlah sebuah kisah menarik terkait tentang keunikan (baca Khoriqul’Adah. red) yang telah di tampakkan oleh Syekh Sayid Abd.Qodier al-Jaelani bersama santrinya, dimana suatu hari di kisahkan : 
 
Ada seorang ibu (wali santri. red) hendak mengunjungi putranya yang kebetulan tengah menimba ilmu di sebuah pesantren milik Syekh Sayid Abd.Qodier al-Jaelani -semoga Allah mensucikannya- hingga datanglah si ibu tadi ke pesantren si Syekh, dan di temuinya putranya tersebut tengah asiknya memakan sebuah roti ala kadarnya yang cuma berlumur garam sebagai penyedap rasa, sementara di sudut ruang yang lain, si ibu tadi juga melihat pemandangan yang begitu kontras dari pemandangan yang pertama, yakni dilihatnya seorang Syekh yang tengah duduk santai di sebuah kursi yang juga dengan lahapnya tengah menikmati sebuah hidangan roti, lengkap dengan panggang ayam di tangannya, lalu tiba-tiba si ibu menegur Syekh dengan suaranya yang agak tinggi, “WAHAI SYEKH, ENAK NIAN TUAN INI YANG MENIKMATI HIDANGAN ROTI DENGAN PANGGANGAN AYAMNYA, SEMENTARA ANAK SAYA CUMA MANYANTAP ROTI PANGGANG, HANYA BERLUMUR GARAM !!”., 
 

Rabu, 19 Agustus 2015

"SAKIT GIGI” Rowaahu “Meggy Z” dari jalur Gus Nuril , 'An Syaekhihi, Gus Dur (Allahu yarhamuh).

Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiiem

Suatu hari, Gus Nuril, panggilan akrab KH. DR. Nuril Arifin Hussein Semarang Jateng hendak pulang dari sejak seminggu penuh menunggui Gus Dur saat mana di rawat di RSCM Jakarta, -dua hari sebelum Gus Dur benar-benar kembali menghadap keharibaan Tuhan yang maha Esa, Ilaa Rafiiq al-A’la, tinggalkan hiruk pikuk dan gebyarnya dunia ini-, tiba-tiba Gur Dur memanggil Gus Nuril untuk sekedar berbincang ngalor-ngidul, padahal sakit beliau hari itu udah terbilang parah, tapi dasar Gusdur, masih saja ketawa-ketiwi, pengennya bercandaan mulu ,.

tanpa basa-basi Gus Nuril mendekati Gusdur

"Gini Gus !", sapa Gusdur mengawali pembicaraan pada Gus Nuril, "al-hamdulillah, saya ini sudah lumayan sembuh” terang Gusdur mensyukuri sisa-sisa hidupnya menjelaskan tentang kondisi terakhir sebelum wafat, “TINGGAL YG INI SAJA, GUS !” katanya lagi sembari beliau menunjuk GIGI nya yang kebetulan pipinya yang sebelah kanan terlihat membesar.

Sabtu, 16 Mei 2015

[Kisah Inspiratif] : Kang Siang Malam



Bismillair-Rahmaanir-Rahiiem

Sebenarnya kisah ini pernah aku posting beberapa bulan silam, juga pernah di post di sebuah fanpage. Dan kemarin dibacakan di RRI.

Namun karena banyak permintaan memposting ulang. Akhirnya aku turuti request para sahabat. Semoga memberikan inspirasi kesemangatan bagi kita. Bahwa hidup adalah keberanian untuk bermimpi dan bercita-cita

@ @ @ @

[ @ ] KANG SIANG-MALAM


Kang Siang-Malam, julukan akrab seorang pemuda kurus kecil yang sehari-harinya menuntut ilmu di sebuah pesantren legendaris di Jawa Tengah. Julukan unik itu disematkan padanya karena sekitar selama 6 tahun dia tak punya pakaian lain kecuali yang melekat di badannya.

Minggu, 06 Juli 2014

Demokratisasi di Pesantren : Mbah Mun dan Mbah Razaq



Bismillahir-Rahmaanir-Rahiiem

Syaikhina Simbah KH Maimun Zubair, -pengasuh PP Al-Anwar Sarang Kabupaten Rembang-, dan Simbah KH. Rozaq Imam, Bonang Lasem -yang juga termasuk salah satu dewan Masyayikh dan Pengasuh PP Ma’hadul-IImi asy-Syar’ie (MIS) Sarang Kabupaten Rembang- yang al-Hamdulillah dulu, saya pernah nyantren di sini.


Beliau berdua saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Meski terkadang Mbah Mun (panggilan akrab KH. Maimun Zubair) dan Mbah Rozaq (panggilan akrab KH. Rozaq Imam) beda pilihan ;

Mbah Mun, dalam Pilpres kali ini (2014) sebagai pendukung pasangan Capres no urut-1 “Prabowo-Hatta”, Sedangkan Mbah Rozaq lebih ke pasangan Capres no urut-2 “Jokowi-JK”. Akan tetapi Beliau berdua saling menghormati dan sama sama punya prinsip yang kuat.

Kamis, 09 Januari 2014

Syekh Imam Kholil



Bismillahir-Rahmaanir-Rahiiem

Beliau lahir pada tahun 1317 H. semasa kecil beliau mengaji kepada ayahhandanya dan para Masayayih Sarang, dalam menuntut ilmu beliau menuruni sifat-sifat ayahhandanya yang bersungguh-sungguh dalam belajar sehingga beliau kelihatan menonjol kepandaiaannya diantara teman-temannya.

Pada masa remaja, beliau dikirim ayahhandanya ke Bangkalan, Madura untuk belajar kepada Waliyullah Syaikh Ahmad Kholil. Setelah dirasa cukup maka Beliau diberangkatkan ke Mekkah untuk menimba ilmu disana pada Syaikh Baqir Al-Jawy seorang ‘Alim ulama’ besar di kota Mekkah saat itu, beliau berada di Mekkah selama 5 tahun dan karena kepandaiaanya beliau diminta mengajar disana.

Akhirnya pada tahun 1342 H. beliau pulang ke tanah air. Dan setibanya di tanah air beliau diminta mengajar dan mengatur urusan Pondok oleh Ayahnya. 

Syekh Faqih Imam bin Imam Kholil



Bismillahir-Rahmaanir-Rahiiem

Sosok yang sederhana nan penuh sahaja ini adalah salah satu masyayikh Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa tengah. Beliau putra dari pasangan KH. Imam Kholil dan Ny. Hj. Robi’ah.

Terlahir dilingkungan pesantren yang melecutkan obsesi intelektualnya untuk bertafaqquh fiddin. Kesederhanaan dan keakraban yang menghiasi kepribadiannya adalah buah pendidikan pesantren yang beliau mulai di tanah kelahirannya dibawah naungan sang ayahanda, setelah itu kemudian beliau melanjutkan studinya di pesantren Al-Sholatiyyah Makkah Al- Mukarromah.

Ilmu hadits menjadi ilmu fan spesialisasi beliau untuk kemudian menjadi warisan yang sangat berharga bagi ribuan santri dipesantren sarang khususnya pesantren yang beliau asuh, “MIS” (Ma’hadul Ilmi As-syar’i) bersama kakak beliau KH. Umar Faruq dan KH. Roghib Mabrur semenjak wafatnya ayahanda beliau pada tahun 1401 H.