Bismillaair-Ramaanir-Rahiiem
SYAHID itu tidak harus
menunggu MATI di jalan-Nya, tidak, insya Allah tidak melulu itu, ... Termasuk dalam
pemaknaan syahid (dalam konteks talabul-‘ilm), adalah jika kau lulus
kuliah -meski tidak dengan predikat terbaik-, namun, kau mampu
membangun/menjadi stek holder dari lingkungan IAIN Syekh Nurjati Cirebon
di masyarakatnya masing-masing, atau kau lulus dari salah satu pesantren salafiyah Islam, lalu sepulang dari pesantren kau mampu membangun paradigma baru di lingkungan masyarakatnya dengan pendekatan dan pola-pola pesantren, tunjukan bahwa anda adalah bagian dari
allumni pesantren dan atau PTAIN yang mampu berdiri tegak sebagai figure penting dan agen perubahan (agen
of change) dilingkungan anda, tunjukan ke masyarakat bahwa anda adalah generasi berilmu yang
diperlukan banyak orang untuk siap mengawal perubahan mereka ke ranah
positive asal tidak pragmatis.
Yah, barang kali, ini pun sudah lebih
dari cukup bagi anda untuk dalam rangka menuju level SYAHID yang dijanjikan Tuhan yang maha
Esa ; Syahid ‘ilmi (kesaksian membangun ilmu pengetauan), Syahid tsaqafi
(kesaksian membangun peradaban), inSya Allah jika anda mau, anda pun
mampu menuju ke sana, tentu saja dengan tanpa mengabaikan asas
kemanfa’atan kepada khalayak umum mengingat sabda Nabi SAW menegaskan : AFDHALUN-NAAS, ANFA’UHUM LIN-NAAS => Manusia
terbaik adalah mereka yang paling banyak manfa’atnya bagi manusia lain.,
maksudnya, manusia yang paling banyak membawa perubahan positive bagi
masyakatnya.